PKBM Ronaa Metro Hadiri Diskusi Nasional TBM di Era Digital di Serpong, Siap Replikasi di Festival Kampung Literasi Metro 2025
“Literasi yang Membumi dan Melangit – Menjembatani Kearifan Lokal dengan Dinamika Global”
Festival ini adalah kritik terhadap dikotomi ilmu. Di sini, ilmu humaniora yang abstrak (puisi) dan ketrampilan tangan yang konkret (gerabah) berdialektika, menciptakan sintesis pengetahuan yang utuh dan membebaskan
Baca Kuy!Dalam mekanisme permainan, terdapat cermin bagaimana kita belajar tentang aturan, pilihan, konsekuensi, dan kerja sama—inti dari bagaimana kita memahami dan mengarungi kehidupan yang lebih luas
Baca Kuy!Mark McCrindle, memberikan peta jelas bagaimana budaya dominan dan teknologi yang tersedia pada masa formatif (sekitar 15 tahun pertama) secara mendalam membentuk nilai, perilaku, dan karakter kolektif suatu generasi.
Baca Kuy!
“Literasi yang Membumi dan Melangit – Menjembatani Kearifan Lokal dengan Dinamika Global”
“Diskusi dan kolaborasi yang berkelanjutan bukan hanya sebuah agenda, tetapi adalah napas dari setiap upaya membangun masyarakat yang cerdas dan berperadaban.”
“Literasi informasi adalah tameng di era digital; bekal untuk tidak hanya mengonsumsi informasi, tetapi juga mencernanya dengan bijak dan menyebarkannya dengan bertanggung jawab.”
“Akreditasi bukanlah tentang dokumen yang sempurna, tetapi tentang praktik pembelajaran yang bermakna dan mengubah hidup.”
“Membuka pintu bagi penelitian adalah investasi untuk literasi digital yang lebih inklusif.”
“Mengukir Pengalaman Baru, Meretas Jalan Kesetaraan Melalui ANBK”
“Merdeka adalah komitmen untuk terus belajar dan berkontribusi”
Agen perubahan terkuat seringkali berasal dari dalam komunitas itu sendiri. Mereka yang memahami realitas lokal secara mendalam memiliki kekuatan untuk memberdayakan dan menggerakkan masyarakat menuju kemandirian
“Akses literasi bukan soal kota atau desa, tapi soal kemauan membawa cahaya pengetahuan ke mana pun langkah kaki menjejak.”
“Di balik megahnya kota futuristik dan kecerdasan buatan, panggung ‘Kita Manusia’ mengungkap kegelisahan: teknologi mungkin menjawab segalanya, kecuali kehampaan batin.”
“Literasi digital bukan sekadar kemampuan teknis, melainkan lentera yang menerangi jalan di tengah gelombang informasi. Seperti nelayan yang membutuhkan kompas, masyarakat butuh kecakapan digital untuk mengarungi samudera data tanpa tersesat.”
“E-Kinerja bukan sekadar alat ukur, melainkan cerminan hati pelayanan PKBM Ronaa. Seperti akar yang menghujam kuat, setiap penilaian afektif adalah pondasi untuk tumbuhnya pendidikan yang manusiawi dan merata.”
“Kreativitas adalah bahasa universal yang menyatukan, mengubah libur menjadi karya, dan taman menjadi kanvas kebersamaan.”















Komentar Terbaru