
Mendekonstruksi Pemasaran. Workshop yang Menjawab “Mengapa” Sebelum “Bagaimana”
Salam bahagia dan salam sejahtera Sobat Mina
Tabik Pun!
Dalam dialektika pendidikan, seringkali kita terjebak dalam sekat-sekat formal. Namun, sebuah peristiwa di SMKN 1 Bumi Ratu Nuban pada 3-4 November 2025 mendekonstruksi narasi itu. Di sana, guru dari Satuan Pendidikan Non Formal, PKBM Ronaa Metro, yang juga penggerak Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Ronaa Metro, justru didapuk untuk menjadi “pemberi cahaya” bagi para pendidik formal.
Atas undangan Tim Pelaksana Program Kampung Literasi Metro, dua intelektual praktisi ini—Amin Budi Utomo, S.Pd. dan Andi Siswanto, S.E.—hadir untuk memimpin Workshop Pengembangan Digital Marketing dan Workshop Pengembangan Sistem Penjualan (Marketplace). Mereka hadir bukan sebagai teknokrat yang hanya ajarkan “klik di sini, geser ke sana,” melainkan sebagai “filsuf digital” yang membongkar logika di balik layar.
Nurhasanah, S.Pd., Kepala SMKN 1 Bumi Ratu Nuban, dalam visinya yang tajam, menyadari bahwa kompetensi di era digital bukan lagi sekadar keterampilan (skill), melainkan sebuah literasi baru. Harapannya jelas, para pendidik dan tenaga kependidikan di SMK-nya tidak hanya mampu mengoperasikan platform, tetapi memahami jiwa dari platform tersebut, sehingga dapat mentransferkannya secara substansial kepada peserta didik.
Workshop Digital Marketing 2025 oleh Pustekom RLCsWorkshop semacam ini sering terjebak pada hal teknis. Namun, narasumber dari PKBM Ronaa Metro ini diharapkan membawa angin segar dengan pendekatan yang lebih filosofis.
Terkait digital marketing, Amin Budi Utomo, S.Pd menyampaikan : “Pemasaran digital bukanlah tentang menjadi viral. Itu adalah konsep yang keliru. Ini adalah soal membangun ‘ruang percakapan’ yang bermakna. Setiap konten adalah sebuah proposisi, sebuah undangan untuk berdialog dengan calon pelanggan. Jika Anda hanya menjerit menjual produk, Anda bukan marketer, Anda adalah noise (kebisingan) dalam algoritma.”
Sedangkan Andi Siswanto, SE menyampaikan pada sesion Sistem MarketPlace, “Jangan lihat toko online Anda sebagai etalase. Lihatlah sebagai ‘kedai kopi’. Orang datang bukan hanya untuk transaksi, tapi untuk pengalaman. Deskripsi produk adalah percakapan Anda, ulasan adalah reputasi Anda, dan respons Anda adalah pelayanan Anda. Ini adalah ekonomi perhatian (attention economy), uangnya adalah trust (kepercayaan).”
Akhir kata, kolaborasi antara PKBM Ronaa Metro dan SMKN 1 Bumi Ratu Nuban ini adalah sebuah pertanda baik. Ia menunjukkan bahwa ilmu tidak lagi bersifat hierarkis dari atas ke bawah, melainkan menyebar seperti rizoma dari mana saja, dari siapa saja yang memiliki kapasitas. Dalam konteks ini, guru non-formal dari kampung literasi justru menjadi sumber pengetahuan bagi guru formal, sebuah sintesis yang indah dalam mempersiapkan generasi muda menghadapi kompleksitas zaman.
Workshop ini bukan akhir, melainkan awal dari sebuah gerakan literasi digital yang lebih dalam, yang tidak hanya bertanya “bagaimana cara menjual,” tetapi lebih fundamental “mengapa orang harus membeli dari Anda?”. Sebuah pertanyaan filosofis yang jawabannya akan menentukan kesuksesan di hutan beton bernama dunia digital.
Artikel lainnya :














