
Filosofi Libur dalam Surat Edaran Mendikdasmen No.14 Tahun 2025. Antara Hak Istirahat dan Tekanan Produktivitas
Salam sejahtera dan salam bahagia Sobat Mina
Tabik Pun!
Yang lagi rame, mari kita bahas tentang sesuatu yang mendasar, libur. Kata kecil itu tiba-tiba jadi bahan bakar kontroversi di linimaya. Seolah-olah yang sedang dibahas adalah rencana revolusi pendidikan, padahal cuma soal, apakah peserta belajar boleh bernapas tanpa dibebani PR?
Mimin cuma senyum senyum sendiri aja, tapi juga pingin menangis. Di satu sisi, ada Surat Edaran Mendikdasmen yang intinya cuma bilang “Libur itu hak, bukan privilese.” Di sisi lain, linimaya ramai “Jangan-jangan anak jadi manja! Jangan-jangan bangsa ini jadi lemah!” Seolah-olah fondasi negara akan runtuh cuma karena di hari libur, seorang anak diajak memasak bersama ibu, atau baca buku di teras, bukan mengerjakan soal trigonometri atau meneliti lapisan ari daun bawang.

Faktanya? Kita sedang sakit akut karena kultus produktivitas semu. Libur harus “produktif”, harus ada “output”, harus ada “nilai tambah”. Masyarakat belajar yang seharusnya sedang istirahat dipaksa jadi robot sekolah yang terus beroperasi, bahkan di masa rehat.
Mendikdasmen Abdul Muti cuma mengingatkan : “Bapak-Ibu, ini libur. Bukan shift kerja kedua.”
Tapi rupanya, bagi sebagian kita, libur tanpa PR itu seperti nasi tanpa garam, dianggap tidak bermutu, tidak berbobot, tidak berfaedah. Padahal, dalam filsafat paling sederhana sekalipun Istirahat adalah bagian dari belajar. Belajar memahami tubuh, jiwa, dilingkungan keluarga, dan dunia tanpa tekanan skor, tanpa deadline, tanpa ancaman remidi.
Tapi linimaya punya logikanya sendiri “Kalau tidak diberi tugas, anak akan lupa ilmu!”. Hmmm, sungguh anggapan yang lucu. Seakan-akan otak itu seperti ember bocor yang harus terus diisi, atau ilmu akan tumpah semua pas hari libur.
Mungkin kita lupa bahwa Einstein tidak menemukan teori relativitas karena mengerjakan PR liburan. Atau bahwa Chairil Anwar tidak menulis “Aku” karena tugas sekolah. hehehe…
Libur, dalam kebijakan ini adalah bentuk revolusi kecil, mengembalikan manusia pada ritme alamiahnya. Bukan mesin 1 x 24 selama 7 hari yang harus terus menghasilkan.
Jadi, ketika medsos ribut tentang “libur yang dibonsai“, minin cuma geleng-geleng. Kita memprotes hak anak untuk istirahat, seolah-olah itu adalah kemewahan yang tak boleh dinikmati. Padahal, justru di saat libur (tanpa beban) mereka (peserta belajar) bisa belajar hal paling penting Menjadi manusia. Bukan hanya peserta belajar, bukan hanya angka, bukan hanya belajar di ruang ruang.
Dan jika itu masih dianggap kontroversial? Maka mungkin kita memang sudah terlalu jauh menjadi tuan bagi mesin, dan mesin bagi diri sendiri.
Artikel lainnya :
- Filosofi Libur dalam Surat Edaran Mendikdasmen No.14 Tahun 2025. Antara Hak Istirahat dan Tekanan ProduktivitasKontroversi libur sekolah 2025 – larangan PR berlebihan sebagai bentuk perlawanan terhadap pendidikan yang terlalu instrumental.
- Pengaruh Budaya & Teknologi Terhadap Karakter Tiap Generasi Menurut Mark McCrindleMark McCrindle, memberikan peta jelas bagaimana budaya dominan dan teknologi yang tersedia pada masa formatif (sekitar 15 tahun pertama) secara mendalam membentuk nilai, perilaku, dan karakter kolektif suatu generasi.
- Antara Akal Sehat dan Ritual TeknologiKetika Pendidikan Lebih Sibuk Menyambung Wi-Fi daripada Menyambung Logika
- Pengaruh Kreativitas dan Tantangan Nalar Kritis Generasi Muda dalam Pemanfaatan AI untuk Karya Tulis Orisinal – Perspektif KolaborasiMenjaga Orisinalitas Intelektual: Tantangan Nalar Kritis di Era Generatif AI.
- Malas yang Produktif – Mengapa Bill Gates Memilih Orang Malas untuk Menyelesaikan Pekerjaan TerberatDekonstruksi Makna Kemalasan














