
Asesmen Nasional buat Pendidikan Kesetaraan – Nggak Sekadar Tes, Tapi Cermin Kualitas
Salam sejahtera dan salam bahagis Sobat Mina
Tabik Pun!
“Warga Belajar, Bersiaplah! Ujian Kualitas Kita Akan Datang dalam Hitungan Bulan!”
Hey, Sobat Mina! Beberapa bulan kedepan, kita bakal hadap-hadapan sama yang namanya Asesmen Nasional (AN)—bukan sekadar tes biasa, tapi cermin buat ngeliat sejauh apa ilmu kita udah nyangkut. Ini kesempatan buat nunjukin bahwa lulusan pendidikan kesetaraan nggak kalah keren, nggak cuma formalitas ijasah doang.
Pemerintah dan sekolah mulai mempersiapkan semua, sekarang giliran kalian yang harus kooperatif—ikut AN bukan karena dipaksa, tapi karena ini investasi buat masa depan sendiri. Bayangin aja, hasil AN bisa bantu kita upgrade kurikulum, dapet pelatihan tambahan, atau bahkan jadi bekal buat lanjut kuliah/kerja.
Jadi, yuk gaspol bareng-bareng! Nggak perlu takut, yang penting ikut dulu. Kalaupun hasilnya belum oke, itu bahan evaluasi biar kita makin jago. “Gagal itu biasa, nggak ikut sama sekali baru masalah!”
Mariiii… kita bikin AN ini jadi batu loncatan, bukan batu sandungan!

Pendidikan kesetaraan sering dipandang sebelah mata, padahal kontribusinya besar. Menurut Prof. Suyanto (2020), pendidikan non-formal punya peran strategis dalam mengurangi angka putus sekolah dan meningkatkan literasi masyarakat. Tapi, kualitas output-nya harus dibuktikan lewat alat ukur yang kredibel, kayak AN. Kalau nggak, gelar “setara SMA” cuma jadi simbol tanpa makna, dan lulusannya susah bersaing di dunia kerja atau kuliah.
Tes Kemampuan Akademik dalam AN tuh kayak check-up tahunan buat Satuan Pendidikan Non Formal. Dr. Ella Yulaelawati, pakar pendidikan non-formal, bilang (2019) bahwa hasil AN bisa jadi bahan evaluasi internal buat perbaikan kurikulum dan metode pembelajaran. Misalnya, kalau nilai literasi warga belajar rendah, lembaga pendidikan tersebut bisa fokus ke program baca-tulis. Jadi, AN bukan sekadar beban, tapi alat refleksi.
Tapi realitanya, banyak warga belajar yang masih skeptis sama AN. Mereka mikir, “Ngapain ikut tes nasional kalau ujung-ujungnya nggak diakui kerja?” Ini PR besar buat pemerintah sebagai pemangku kebijakan secara berjenjang dan penyelenggara pendidikan non formal . Perlu sosialisasi massif bahwa AN bukan cuma buat nilai, tapi buat memastikan pendidikan kesetaraan nggak kalah kualitas sama sekolah formal. Data AN juga dipake buat kebijakan afirmasi, kayak beasiswa atau pelatihan lanjutan.
Di sisi lain, satuan pendidikan non-formal sering kewalahan ngadepin AN. Minimnya fasilitas, tutor yang kurang kompeten, atau warga belajar yang part-time bikin persiapan AN jadi berat. Padahal, menurut Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan (2022), lembaga yang serius manfaatin hasil AN biasanya bisa naikin kualitas lulusannya dalam 2-3 tahun. Kuncinya adalah komitmen dan dukungan dari pemerintah pusat dan daerah.
Ada juga yang protes, “AN terlalu akademis, nggak ngukur skill praktik!” Ini kritik valid, karena pendidikan kesetaraan harusnya lebih fleksibel. Tapi, Dr. Djohan (2021) ngasih solusi: AN bisa dikembangkan dengan memasukkan aspek vokasional atau portofolio proyek. Jadi, nggak cuma teori, tapi juga praktik. Ini sejalan dengan semangat Merdeka Belajar yang mau pendidikan lebih adaptif.
Kalo mau jujur, AN itu cermin buat kita semua. Pemerintah bisa liat mana lembaga pendidikan non formal yang butuh intervensi, tutor bisa introspeksi cara penyampaian pembelajaran, dan warga belajar bisa tahu kelemahan mereka. Contohnya, hasil AN 2022 nunjukkin bahwa literasi numerasi peserta kelompok belajar Paket C SMA masih di bawah rata-rata. Ini jadi alarm buat semua pihak buat bikin program remedial atau kurikulum yang lebih relevan.
Jadi, partisipasi dalam AN tuh investasi jangka panjang. Bukan cuma buat gelar, tapi buat memastikan bahwa lulusan pendidikan kesetaraan punya kompetensi yang diakui. Kaya kata Mas Nadiem Mantan Mendikbudristek RI (2021), “Asesmen bukan buat nyalahin, tapi buat memperbaiki.” Kalo dijalanin dengan serius, AN bisa jadi senjata buat naikin kredibilitas pendidikan non-formal di Indonesia.
Referensi :
- Permendikbud No. 17 Tahun 2021 tentang Asesmen Nasional.
- Suyanto. (2020). Pendidikan Non-Formal di Era Disrupsi. Yogyakarta: UNY Press.
- Yulaelawati, E. (2019). Kebijakan dan Praktik Pendidikan Kesetaraan. Jakarta: Kencana.
- Puslitjakdikbud. (2022). Analisis Hasil AN Pendidikan Kesetaraan. Jakarta: Kemendikbud.
- Djohan, H. (2021). Asesmen Kompetensi Minimum: Konsep dan Implementasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Artikel lainnya :
- PKBM RONAA Gelar Gladi Bersih Asesmen Nasional Jenjang Kejar Paket B SMP Tahun 2025“Mengukir Pengalaman Baru, Meretas Jalan Kesetaraan Melalui ANBK”
- Asesmen Nasional buat Pendidikan Kesetaraan – Nggak Sekadar Tes, Tapi Cermin Kualitas“Memaksimalkan Asesmen Nasional buat Tingkatkan Daya Saing Lulusan Pendidikan Kesetaraan”
- Urgensi Uji Kesetaraan 2025: Perubahan Ujian Nasional, Regulasi Terbaru, dan Pendapat PakarDi tahun 2025, Ujian Nasional memang sudah tiada, tapi evaluasi pendidikan tetap ada. Uji Kesetaraan bukan lagi penentu kelulusan, melainkan alat ukur kualitas belajar. Kini saatnya pendidikan fokus pada kompetensi, bukan sekadar nilai.
- SANTRI 1446 H: Ramadan Penuh Berkah, Ilmu Makin Cetar di PKBM Ronaa Metro!Ramadan di PKBM Ronaa Metro bukan sekadar menahan lapar dan haus, tapi juga kesempatan buat meningkatkan ilmu dan memperkuat ukhuwah
- Uji Kesetaraan 2025 Ditunda: Sabar Dulu, Ada Kebijakan Baru!Kemdikdasmen sendiri bilang kalau mereka ingin memastikan sistem ujian ini lebih relevan dan berkualitas.














