
AI Bikin Culas? Mendikdasmen Ngomong Gini, Gen Z Harus Gimana?
Salam bahagia dan salam sejahtera Sobat Mina
Tabik Pun!
“Penggunaan teknologi AI tidak membuat manusia menjadi cerdas tapi membuat orang menjadi culas,” – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Prof. Abdul Mu’ti. Pernyataan ini memantik diskusi serius tentang peran kecerdasan buatan (AI) dalam pendidikan dan kehidupan sehari-hari. Sebagai masyarakat Indonesia, terutama warga belajar program pendidikan kesetaraan, bagaimana kita menyikapi tantangan ini?
AI = Candu atau Bantuan?
Menteri Pendidikan Abdul Mu’ti belum lama nyinyir soal AI, “Gak bikin pinter, malah bikin culas!”. Gen Z langsung ribut: “Waduh, bener gak sih?”. Menurut Prof. Iwan Pranoto (ITB), AI emang bisa disalahgunakan buat nyontek atau bikin tugas instan, tapi bukan berarti teknologi-nya yang salah. UU No. 20/2003 (Sisdiknas) juga nyebutin bahwa pendidikan harus bangun karakter, bukan cuma ngandelin tools. Jadi, masalahnya bukan di AI-nya, tapi cara kita pake. Kalo cuma buat shortcut, ya emang bahaya!

AI di Pendidikan Kesetaraan: Musuh atau Kawan?
Buat masyarakat-warga belajar program studi pendidikan kesetaraan kelompok belajar (Paket A/B/C), AI bisa jadi lifehack buat belajar mandiri. Tapi, Prof. Dr. Hamid Hasan, M.S. pakemnya kurikulum sudah ingetin, “Jangan sampe kecanduan AI sampai lupa kemampuan dasar kayak logika atau etika”. Permendikbud No. 43/2019 soal pendidikan nonformal juga tekankan pentingnya soft skills kayak kejujuran. Jadi, AI boleh dipake buat bantu cari materi, tapi kalo sampe plagiat, ya self-report dah!
Riset & Regulasi: Indonesia Siap Gak Hadapi AI?
Data BPS (2023) nyebut 60% Gen Z udah pake AI sehari-hari, tapi regulasi masih jadul. Nadiem Makarim waktu masih jadi Mendikbud sempat ngomongin digital ethics, tapi aturan spesifik soal AI di pendidikan masih minim. Bandingin sama Singapura yang udah punya AI Governance Framework buat sekolah. Kalo Indonesia mau serius, harus ada Permendikbud khusus AI biar gak asal copy-paste dari ChatGPT.
Tips Gen Z: Pake AI Biar Gak Dicap Culas
Beberapa cara biar AI gak jadi boomerang:
- Cross-check info: Jangan percaya 100% sama jawaban AI, google dulu, bro!
- AI for brainstorming: Ide dari AI boleh, tapi dikembangin sendiri.
- Jangan ghosting guru/tutor: Tetap diskusi sama manusia biar paham konteks.
Kata Gita Wirjawan (Pendiri Akademi Edukreatif), “AI itu kayak kalkulator: bantu hitung, tapi gak bisa gantiin otak lo.”
Tingkat Adopsi AI oleh Pelajar (2023) – Kemendikbud Tahun 2023 – BPS Survey Pelajar Gen Z (2023)
- 78% | ████████████████████ | Pernah menggunakan AI untuk tugas sekolah
- 53% | ████████████ | Mengakui tergantung pada AI untuk penyelesaian tugas cepat
- 35% | ███████ | Memahami risiko plagiarisme dari penggunaan AI
- 12% | ██ | Pernah mendapat sanksi karena penggunaan AI
Masa Depan: Kolaborasi Manusia + AI
AI bakal terus berkembang, dan Gen Z harus adapt tanpa kehilangan nilai. Kemendikbudristek udah mulai uji coba platform Merdeka Belajar dengan fitur AI, tapi tetep harus diimbangi penguatan moral. Kuncinya: pinter pake teknologi, tapi tetap punya integritas. Jadi, kalo ada yang manfaatin AI buat ngakalin sistem… yaudah, lawfare aja pake UU ITE!
Maka dapat disimpulkan, AI gak salah, yang salah yang pake buat nyontek. Gen Z, bisa lebih bijak kan?
#AIvsGenZ #JanganCulasPakaiAI #PendidikanKesetaraan #DigitalEthics
Artikel lainnya :
- “Pendidikan Tanpa Kesadaran: Mencetak Lulusan atau Membentuk Pemikiran?”“Kesadaran bukan pelengkap dalam pendidikan, melainkan fondasi; tanpanya, ilmu berubah menjadi alat reproduksi ketundukan.”
- Mengapa Pendidikan Karakter Lebih Penting Daripada Nilai Sempurna?“Nilai bisa dicapai, karakter harus dibangun.”
- Ramadhan 1447 H – Ketika Perut Kosong, Pikiran Liar, dan Kita Semua Jadi Filsuf Dadakan“Sahur itu ibarat sidang kabinet: ada yang serius, ada yang pura-pura dengar, dan ada yang tidur. Lalu saat adzan Maghrib, terjadi kudeta lunak—perut mengambil alih kekuasaan. Jangan-jangan, selama ini kita hanya korban dari konspirasi kolak dan takjil? Kalau begitu, saatnya otak kita kudeta juga: isi dengan ilmu digital, agar lapar ini punya arti.”
- TBM Ronaa Terima Kunjungan Penerbit Buku Intan PariwaraSinergi penerbit, TBM, dan PKBM ibarat jembatan kata: saat dibangun bersama, jurang antara pengetahuan dan komunitas runtuh.
- Kiprah Tri Sujarwo dalam Pelestarian Bahasa Daerah melalui Dongeng dalam Rilis Surat Kabar KOMPASDongeng adalah dekonstruksi keakraban, ia mengembalikan anak pada bahasa ibunya, dan bahasa pada ingatan kolektif yang terlupakan.














