
Pendidikan Nonformal Nggak Cuma Online, Bro! Ini Faktanya
Salam bahagia dan salam sejahtera Sobat Mina
Tabik Pun!
Beberapa waktu terakhir, banyak warga yang konsultasi soal gimana sistem pembelajaran di pendidikan nonformal. Ada asumsi yang masih mainstream banget kalau pendidikan nonformal itu bisa dilakuin full online. Padahal, kenyataannya nggak sesimpel itu, Sobat! Menurut aturan Kemendikbudristek RI, pendidikan nonformal itu punya tiga metode pembelajaran utama: tutorial, mandiri, dan tatap muka. Jadi, tatap muka tuh tetap wajib, karena interaksi langsung antara warga belajar dan tutor itu penting banget buat ningkatin kualitas belajar.

Sebelum pandemi, sistem pembelajaran di pendidikan nonformal tidak ada perubahan tetap ada tatap muka. Aktivitas kayak diskusi kelompok, praktik keterampilan, dan konsultasi langsung sama tutor jadi andalan. Pas pandemi datang, semua harus pindah ke online buat alasan keamanan. Tapi setelah pandemi mulai mereda, sistem hybrid mulai diperkenalkan. Nah, sekarang, pembelajaran nonformal udah balik lagi ke format normal yang menggabungkan tutorial, mandiri, dan tatap muka.
Regulasi terbaru, seperti yang ada di Permendikbudristek No. 4 Tahun 2022 tentang Standar Nasional Pendidikan Nonformal, menegaskan pentingnya ketiga metode itu. Tutorial buat diskusi terarah bareng tutor, pembelajaran mandiri buat fleksibilitas belajar, dan tatap muka buat memperkuat konsep serta keterampilan. Menurut Kemendikbudristek, ketiga metode ini saling melengkapi, bukan buat digantiin satu sama lain.
Ada yang bilang, “Kan bisa lebih gampang kalau full online aja?” Eits, tunggu dulu, kata Dr. Anita Lie, pakar pendidikan dari Universitas Surabaya, “Pembelajaran full online punya keterbatasan, terutama buat pengembangan soft skills dan keterampilan praktis.” Jadi, kalau cuma andelin online, bisa-bisa warga belajar nggak dapet pengalaman belajar yang utuh. Selain itu, interaksi sosial yang penting buat proses belajar juga bisa hilang.
Opini soal full online sering datang dari mereka yang ngerasa cara ini lebih praktis dan hemat waktu. Tapi, apakah ini cuma kemauan sepihak? Pakar lain, kayak Dr. Indra Charismiadji, bilang kalau pendidikan nggak cuma soal efisiensi, tapi juga efektivitas. “Pendidikan nonformal dirancang buat ngasih pengalaman belajar yang fleksibel tapi tetap berkualitas,” jelasnya. Jadi, maunya warga belajar juga harus balance sama kebutuhan dan aturan.
Kemendikbudristek juga menekankan bahwa tatap muka itu wajib, terutama buat jenis pembelajaran yang butuh praktik langsung. Contohnya di program kesetaraan atau vokasi. Praktik keterampilan kayak menjahit, memasak, atau desain grafis butuh bimbingan langsung biar hasilnya maksimal. Kalau full online, hasil belajarnya mungkin nggak optimal. Ini kenapa tutor harus tetap hadir secara langsung buat memastikan kualitas belajar tetap oke.
Buat warga yang ngerasa full online lebih cocok, sebenarnya metode pembelajaran mandiri udah menjawab kebutuhan itu. Di sini, warga belajar bisa belajar sendiri sesuai waktu mereka, tapi tetap dengan bimbingan tutor. Jadi, sistem pendidikan nonformal tuh udah fleksibel banget, Sob. Yang penting, jangan sampai fleksibilitas ini bikin kita jadi malas atau ngambil jalan pintas.
Kata Dr. Satria Dharma, “Pendidikan itu tentang proses, bukan cuma hasil. Kalau semua dibuat online, proses belajar yang berharga bisa hilang.” Jadi, penting banget buat kita menghargai sistem yang ada. Lagian, interaksi langsung sama tutor atau teman belajar tuh nggak cuma nambah ilmu, tapi juga bikin proses belajar jadi lebih seru dan meaningful.
Buat PKBM atau lembaga pendidikan nonformal lainnya, hybrid learning tetap jadi solusi yang relevan. Metode ini ngegabungin tutorial, mandiri, dan tatap muka secara efektif sesuai kebutuhan. Dengan teknologi yang makin canggih, kita bisa maksimalkan belajar online tanpa ngorbanin esensi pembelajaran tatap muka. Jadi, nggak ada alasan buat bilang sistem ini ketinggalan zaman.
Sobat warga belajar, yuk kita maksimalkan sistem pendidikan nonformal yang ada sekarang. Jangan cuma fokus di apa yang praktis, tapi pikirin juga kualitas dan hasil jangka panjangnya. Kalau kita serius, nggak cuma ilmu yang kita dapet, tapi juga pengalaman belajar yang bikin kita jadi individu lebih baik. So, let’s make learning fun and meaningful together!. [Mina]
Artikel lainnya :
- Implikasi kebijakan PJJ bagi pendidikan nonformal dan kesetaraan.Beredar kabar bahwa Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) kembali diberlakukan untuk semua jenjang pendidikan pada tahun 2026. Benarkah demikian? Faktanya, Kemendikdasmen hanya meluncurkan program PJJ terbatas bagi Anak Tidak Sekolah (ATS) usia 16–18 tahun yang tersebar di 34 provinsi, bukan untuk seluruh siswa SD, SMP, atau SMA. Sementara untuk perguruan tinggi, Kemendiktisaintek mewajibkan mahasiswa semester 5 ke atas belajar daring dengan alasan efisiensi energi. Tidak ada kebijakan PJJ universal untuk semua. Artikel ini akan memberikan pemahaman yang jelas dan berdasarkan sumber terbaru bagi penyelenggara pendidikan dan masyarakat, terutama yang bergerak di jalur pendidikan nonformal.
- Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) PKBM RONAA Metro Tahun Pelajaran 2025/2026“Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) sebagai penilaian akhir program studi kesetaraan di PKBM RONAA Metro. Evaluasi komprehensif bagi warga belajar Paket C SMA Kelas XII Tingkat 6, Paket B SMP Kelas IX Tingkat 5, dan Paket A SD Kelas VI Tingkat 2 dalam menyelesaikan jenjang pendidikan non formal.”
- UPK 2026 PKBM : Komitmen Meningkatkan Kualitas Pendidikan KesetaraanPeningkatan mutu pendidikan nonformal.
- PKBM Bukan Kampung Dungu. Menepis Stereotip dengan Logika, Bukan Gengsi IjazahStunting, PKBM, dan Nasib: Selamat Datang di Sirkus Bonus Demografi ala Indonesia
- Kolaborasi “Berembuk Rasa Jilid II” Hadirkan Dua Pementasan Teater di Kota Metro, Sanggar Kakasi Sampaikan Apresiasi“Berembuk Rasa Jilid II bukan sekadar panggung pertunjukan, tetapi ruang hidup bagi ide, rasa, dan kolaborasi yang menjaga napas teater tetap menyala di Kota Metro.”














