![[ Mamak Lawok ] Selamat Jalan Maestro [ Mamak Lawok ] Selamat Jalan Maestro](https://pkbmronaa.sch.id/wp-content/uploads/2024/12/maestro-1024x160.png)
[ Mamak Lawok ] Selamat Jalan Maestro
Salam Bahagia dan Salam Sejahtera Sobat Mina
Tabik Pun!
Kami turut berduka cita, atas berpulangnya Maestro Sastra lisan lampung Mursi Masrudin atau yang dikenal Mamak Lawok.

Beliau dikenal sebagai pelaku seni sastra lisan yaitu Hahiwang. Hahiwang adalah syair yang berisi nasehat-nasehat yang berkenaan dengan agama. Ia juga ahli dalam seni tradisi lisan hahiwang dan muwayak, disamping itu juga ia ahli dalam butetah yakni tata Titi pemberian gelar adat sai Bathin.
Awal beliau belajar hahiwang pada saat duduk di bangku Sekolah Dasar, beliau diperkenalkan hahiwang dari sang ibu. Dulu hahiwang difungsikan untuk pengembangan agama Islam, yang melakukan hahiwang adalah para kaum wanita.
Dahulu orang-orang Belanda mengganggap hahiwang sebagai hiburan semata tanpa mengetahui arti sebenarnya. Hahiwang yang paling sering di bawakan adalah Darussalamah dan Bintang Lunik.
Mamak Lawok juga diwariskan sebuah naskah yang di tulis pada kulit kayu. Menurut beliau isi dari naskah tersebut adalah naskah hahiwang yang berjudul Saghak Kundang (bercerai kasih),
naskah tersebut ditulis menggunakan Aksara Lampung kuno. Sebenarnya Mamak Lawok sendiri tidak bisa membaca tulisan itu, namun beliau sudah diberitahu oleh ibunya tentang intisari dari tulisan tersebut.
Mamak Lawok memiliki keahlian untuk mengarang sebuah hahiwang. Dengan tekun beliau mengetik naskah hahiwang menggunakan mesin ketik pemberian salah satu universitas yang ada di Lampung. Sudah puluhan naskah hahiwang yang beliau ciptakan, namun sayang beberapa naskah tersebut telah rusak, hanya ada beberapa naskah lagi yang masih tersisa. .
Hahiwang sendiri sejatinya adalah lantunan syair yang berisikan ungkapan perasaan kesedihan yang pada zaman dahulu biasanya dilantunkan untuk mengekspresikan suasana hati.
Atas kesetiaannya melestarikan hahiwang, Mursi Marsudin mendapat Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) tahun 2020 dan Anugerah Maestro Sastra tahun 2024 dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Selamat Jalan Maestro [Amin]
Artikel lainnya :
- Konsistensi, Kompetensi, dan Normalisasi Kemalasan – Ketika Idealisme Menjadi Topeng Malas Berpikir“Jangan jadikan agama, seni, atau ideologi sebagai tameng kemalasan. Yang benar sejati tidak butuh pembelaan; ia hanya butuh dibuktikan.”
- Proses yang Tak Bisa Ditawar : Polemik Pendidikan Instan dan Fleksibilitas yang Disalahpahami“Proses tetap, model menyesuaikan. Itu bukan kekakuan, melainkan bentuk dukungan paling konkret dari negara.”
- Menghadapi Perubahan Zaman di Tengah Ketidakpastian Global“Masa perjuangan adalah tempat kita belajar, tumbuh, dan menemukan seberapa kuat diri kita sebenarnya”
- Ketika Darurat Jadi Rutinitas, Hybrid Learning dan Siap Tidak Siap di Negeri Cincin Api“Hybrid bukan mode darurat, tapi cara hidup di negeri yang gempa dan abu vulkanik adalah tetangga lama.”
- Dampak Erupsi Gunung Anak Krakatau terhadap Aktivitas Masyarakat di Provinsi Lampung pada Sektor Pendidikan“Tidak semua perjuangan harus disaksikan orang lain; beberapa kemenangan terbaik lahir dalam diam”















