
Ramadhan 1447 H – Ketika Perut Kosong, Pikiran Liar, dan Kita Semua Jadi Filsuf Dadakan
Salam sejahtera dan salam bahagia Sobat Mina.
Tabik Pun!
Metro, 16 Februari 2026. Bulan Sya’ban baru saja berlalu, meninggalkan kita dengan segudang resolusi spiritual yang – jujur saja – seringkali lebih tebal dari tumpukan kolak di meja makan. Kini, Ramadhan 1447 Hijriah resmi menyapa. Atau versi Masehinya, Februari-Maret 2026. Ini adalah momen di mana seluruh bangsa Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, kompak melakukan ritual tahunan : menahan lapar sambil tetap produktif bekerja, atau setidaknya produktif scroll TikTok sambil menunggu adzan Maghrib .

Dalam perspektif filosofi jalanan, puasa ini adalah proyek “pendisiplinan tubuh”. Versi langit, Tubuh yang biasanya seenaknya ngemil, dipaksa untuk tunduk pada aturan. Ini adalah bentuk relasi kuasa vertikal yang paling halus, di mana yang diperintah (lambung) tidak bisa protes pada penguasa (otak) karena otaknya juga lagi lemes karena kurang gula . Tapi, siapkah kita? Mari kita bedah, generasi per generasi.
“Dulu Kami Puasa, Hujan Batu!” – Generasi 50-an
Untuk para sesepuh kita yang usianya sudah kepala lima (50-an ke atas), Ramadhan adalah medan laga yang sesungguhnya. Mereka adalah veteran perang kemerdekaan melawan godaan gorengan. Bagi mereka, teknologi hanyalah alat untuk mengecek jadwal imsakiyah yang dicetak dari masjid.
Ketika generasi muda sibuk ngabuburit dengan live streaming, generasi 50-an masih setia dengan ritual “padusan” atau mandi besar sebelum puasa, seolah-olah dosa setahun bisa luruh hanya dengan mengguyur air sedingin es . Mereka menganggap puasa zaman sekarang itu “puasa kemasan”: banyak drama, sedikit pahala. “Kami dulu sahur pakai nasi sisa dan air putih, kalian sekarang sahur pakai GoFood 50 ribu, niat atau diet?” begitu kira-kira gugatnya.
Antara Nostalgia dan Eksistensi – Generasi Milenial
Lalu kita sapa Generasi Milenial (lahir 1981-1996) . Mereka adalah jembatan peradaban antara kentongan dan notifikasi. Dalam menyambut Ramadhan 2026 ini, Milenial berada dalam pusaran konflik batin yang dahsyat. Di satu sisi, jiwa mereka berteriak nostalgia ingin ngabuburit keliling komplek, berburu takjil ke pasar kaget, dan bukber (buka bersama) dengan teman SMA yang sudah 10 tahun tidak ketemu .
Jadwal bukber milenial lebih padat dari jadwal Menteri. Dari tanggal 1 sampai 29 Ramadhan, full booked! Ini bukan sekadar makan, ini adalah kongres tahunan solidaritas pertemanan. Tapi di sisi lain, mereka sudah mulai mengenalkan anak-anaknya (yang notabene Gen Alpha) pada konsep “saving the food” dengan memotret makanan sebelum disantap untuk di-upload ke Instagram Story. Ironisnya, mereka sibuk foto, suami/sah-nya sudah keburu makan setengah porsi.
Lah, Puasa Kok Harus Keluar Rumah? – Generasi Z
Nah, kalau Gen Z (lahir 1997-2012) , cara berpikirnya lain lagi. Bagi mereka, “gerak” adalah musuh utama puasa. Filosofi mereka adalah “menghemat energi untuk memaksimalkan ibadah” (preett) , yang dalam bahasa awam disebut mager (malas gerak) .
Data menunjukkan, Gen Z adalah generasi yang paling nyaman dengan digitalisasi ibadah . Mereka tidak perlu repot-repot ngabuburit di pasar yang panas, cukup duduk santai di kamar ber-AC, buka aplikasi, dan swipe sana-sini untuk memesan takjil. Ini yang saat ini disebut sebagai “demokratisasi rasa lapar” . Semua orang bisa merasakan lapar, tapi Gen Z merasakannya dengan earphone di telinga sambil nonton live streaming ceramah sambil main game online.
Momen sahur bagi Gen Z adalah momen paling krusial. Alarm berbunyi pukul 03.30, tapi mata masih berat. Yang terjadi adalah perang saudara antara niat dan bantal. Akhirnya, mereka memilih strategi militer ala perang gerilya yaitu sahur dengan segelas air putih dan dalih “yang penting niat” .
Puasa di Era “Tubuh Digital” – Gen Alpha dan Gen Beta
Sekarang, kita bicara tentang masa depan. Gen Alpha (2013-2025) dan Gen Beta (2026-2039) . Di tahun 2026 ini, Gen Beta baru lahir. Tapi Gen Alpha yang masih bocah, sudah disiapkan untuk “puasa setengah hari” oleh orang tuanya. Filosofi mereka? Puasa adalah tantangan sosial.
Uniknya, Ramadhan 2026 ini akan menjadi saksi bagaimana anak-anak Gen Alpha yang berusia 7-10 tahun akan ngabuburit dengan cara yang sangat berbeda. Mereka mungkin akan ngabuburit di dunia metaverse, atau berburu takjil virtual untuk dibagikan ke avatar temannya. Bagi mereka, menahan lapar itu mudah, yang sulit adalah menahan diri untuk tidak membeli skin baru di game selama Ramadhan.
Momen Absurd yang Menyatukan – Drama Sahur hingga Beduk
Dari analisa generasi di atas, mari kita bedah momen-momen unik yang selalu jadi agenda tahunan:
- Drama Sahur
Ada dua kubu besar di jam 3 pagi. Kubu “Sahur Komunal” yang diisi generasi 50-an dan Milenial yang mudik, di mana mereka bangun dengan semangat 45 dan masak bersama. Versus kubu “Sahur Individual” ala Gen Z, di mana mereka bangun karena teriakan histeris ibu atau karena Alarm ke-20, lalu merangkak menuju meja makan dengan mata masih tertutup, makan dalam mode autopilot, lalu langsung tidur lagi. Jangan lupakan “pasukan kentongan” yang berkeliling kampung. Di era 2026, pasukan ini seharusnya diganti dengan drone yang membawa pengeras suara, tapi untunglah tradisi ini masih bertahan sebagai penanda bahwa kita tidak sepenuhnya menjadi budak teknologi . - Fenomena “Ngabuburit“
Kata ‘ngabuburit’ ini asal-usulnya filosofis banget. Dari bahasa Sunda, ‘burit’ artinya sore. Jadi ngabuburit adalah kegiatan menunggu sore. Dalam konteks kekinian, ngabuburit adalah “seni mempertanyakan nasib” sambil duduk di pinggir jalan. Apa yang ditunggu? Makanan. Tapi kenapa harus menunggu sambil bengong? Ini adalah bentuk perlawanan pasif terhadap waktu yang berjalan lambat karena perut kosong . Generasi Milenial ngabuburit sambil car free day, Gen Z ngabuburit sambil stalking mantan di media sosial. - Saat Adzan Maghrib – “Tombol Ajaib Kehidupan”
Ini adalah momen di mana semua perbedaan generasi luluh. Tidak ada sarkasme, tidak ada gengsi. Ketika muadzin mengumandangkan “Allahu Akbar”, terjadi perpindahan kekuasaan total dari rasa lapar menuju rasa syukur. Dalam sekejap, semua orang tunduk pada satu komando “MAKAN!” . Dan di sinilah letak komedi tertinggi. Gorengan yang masih panas, es buah yang sedingin Arktik, semuanya masuk ke dalam perut secara bersamaan. Tubuh yang tadi kita disiplinkan selama 13 jam, tiba-tiba menjadi zona anarkis. Ini yang saya sebut sebagai “Revolusi Perut” .
Mengasah Bakat di Tengah Ibadah
Nah, Saudara-saudara sekalian. Setelah kita menertawakan diri kita sendiri dengan segala drama dan absurditas Ramadhan ini, ada satu pertanyaan besar yang menggantung setelah perut kenyang dan mata ngantuk, apa warisan yang kita bangun selama bulan penuh berkah ini? Apakah kita hanya akan menjadi flaneur digital yang hanya bisa jalan-jalan di media sosial sambil cari takjil?
Jangan sampai, di bulan di mana umat Islam dilatih untuk menguasai hawa nafsu, kita malah dikuasai oleh hawa nafsu digital. Jangan sampai otak kita tumpul karena terlalu fokus pada isi perut, tapi lupa mengasah isi kepala.
Oleh karena itu, jika Anda merasa bahwa puasa tahun ini perlu diisi dengan sesuatu yang lebih produktif daripada sekadar menahan lapar sambil scroll beranda, ada kabar baik. Di tengah hiruk-pikuk persiaan lahir dan batin ini, sebuah lembaga pendidikan nonformal membuka pintu bagi siapa saja yang ingin meningkatkan kompetensi diri. PELATIHAN DIGITAL KREATOR BERSAMA CANVA
Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam program asah bakat di bidang teknologi informasi. Di bulan yang suci ini, mari kita isi dengan hal yang hits. Pelajari seluk-beluk artificial intelligence (AI) , digital marketing, atau pengembangan software. Ini adalah momentum untuk membuktikan bahwa puasa tidak menghalangi produktivitas, bahkan bisa menjadi katalisator lahirnya generasi teknokrat yang berakhlak.
Karena pada akhirnya, filosofi tertinggi dari Ramadhan bukan hanya mampu menahan lapar, tapi mampu menciptakan peradaban. Mari kita songsong Ramadhan 1447 H dengan perut yang kosong, pikiran yang penuh, dan skill digital yang siap bersaing di level global!
Selamat menjalankan ibadah puasa. Mari kita tahan laparnya, mari kita asah otaknya. Karena masa depan milik mereka yang bisa menggabungkan kesalehan spiritual dengan kecakapan digital.
Tertarik mengasah bakat IT selama Ramadhan? Daftar segera! Kuota terbatas, karena otak tidak bisa puasa kalau tidak diisi ilmu baru. KLIK DISINI
Artikel lainnya :
- April 2026. Peringatan untuk Pejuang Kejar Paket A, B, C – Jangan Sampai Informasi Ujian Pendidikan Kesetaraan Terputus!“Dalam pendidikan kesetaraan, informasi adalah nadi. Terputusnya informasi dari sekolah sama saja memutus nafas perjuanganmu. Garis bawahi tanggal, jadwal, dan lokasi ujian Paket A, Paket B, Paket C. jadikan itu sebagai peta menuju kelulusan.”
- “Pendidikan Tanpa Kesadaran: Mencetak Lulusan atau Membentuk Pemikiran?”“Kesadaran bukan pelengkap dalam pendidikan, melainkan fondasi; tanpanya, ilmu berubah menjadi alat reproduksi ketundukan.”
- Mengapa Pendidikan Karakter Lebih Penting Daripada Nilai Sempurna?“Nilai bisa dicapai, karakter harus dibangun.”
- Ramadan 1447 H di Ronaa Learning. Sekolah Kehidupan yang (Mungkin) Lebih Seru daripada Curhat di Warung KopiSekolah Kehidupan yang Merakit Logika, Spiritualitas, dan Keterampilan Digital dalam Satu Nafas
- Ramadhan 1447 H, PKBM Ronaa Pastikan Warga Belajar Tetap Terima MBGPendidikan yang berkualitas dimulai dari tubuh yang sehat. Program MBG adalah investasi masa depan warga belajar.














