
Kiprah Tri Sujarwo dalam Pelestarian Bahasa Daerah melalui Dongeng dalam Rilis Surat Kabar KOMPAS
Salam Sejahtera dan salam bahagia Sobat Mina
Tabik Pun!
Kota Metro, 28 Januari 2026 — Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Ronaa menyampaikan apresiasi atas kiprah pendongeng Tri Sujarwo atau yang akrab disapa Kak Jarwo, yang konsisten menggunakan dongeng sebagai medium edukasi kebudayaan, bahasa daerah, dan pembentukan karakter anak. Apresiasi tersebut disampaikan menyusul pemuatan profil Tri Sujarwo dalam rubrik Sosok Harian Kompas edisi 28 Januari 2026.
LITERASI BAHASA oleh PustekomDalam pemberitaan tersebut, Tri Sujarwo digambarkan sebagai pendongeng yang berupaya melestarikan bahasa daerah—khususnya Bahasa Lampung—melalui aktivitas mendongeng untuk anak-anak. Dengan memanfaatkan boneka sebagai media cerita, ia menyampaikan nilai-nilai keberagaman, toleransi, anti-perundungan, serta kepedulian terhadap lingkungan secara komunikatif dan mudah dipahami oleh anak usia dini.
PKBM Ronaa mencatat bahwa pendekatan dongeng yang dilakukan Tri Sujarwo selaras dengan kerja-kerja literasi berbasis komunitas yang selama ini dikembangkan. Dongeng tidak hanya diposisikan sebagai hiburan, melainkan sebagai sarana pembelajaran kontekstual yang menghubungkan bahasa, budaya, dan realitas sosial di sekitar anak.
Tri Sujarwo juga pernah terlibat dalam Program Festival Kampung Literasi Metro Tahun 2024 yang diselenggarakan oleh PKBM Ronaa. Dalam kegiatan tersebut, dongeng menjadi salah satu ruang temu antara anak, keluarga, dan komunitas, sekaligus memperkuat ekosistem literasi yang inklusif di tingkat kampung. Kehadiran pendongeng dengan latar kebudayaan lokal dinilai memberi warna penting dalam memperluas pemahaman literasi, tidak semata membaca dan menulis, tetapi juga mendengar, bertutur, dan memahami nilai.
Menurut PKBM Ronaa, upaya mendekatkan bahasa daerah kepada anak-anak melalui metode kreatif merupakan bagian dari strategi kebudayaan jangka panjang. Bahasa daerah tidak cukup hanya dilestarikan melalui dokumentasi, tetapi perlu dihidupkan dalam praktik keseharian, termasuk melalui cerita dan dongeng yang dekat dengan dunia anak.
PKBM Ronaa berharap praktik-praktik literasi berbasis budaya seperti yang dilakukan Tri Sujarwo dapat terus mendapat ruang dan dukungan, baik dari komunitas, lembaga pendidikan nonformal, maupun pemangku kebijakan. Kolaborasi lintas sektor dinilai penting untuk memastikan bahwa literasi tumbuh seiring dengan penguatan identitas budaya dan karakter generasi muda.
Melalui rilis ini, PKBM Ronaa menegaskan komitmennya untuk terus membuka ruang kolaborasi dengan pelaku literasi dan kebudayaan, serta mendorong keberlanjutan program-program literasi yang berakar pada konteks lokal dan kebutuhan masyarakat.
Artikel Lainnya :














