Budaya FOMO di Kalangan Gen Z dan Dampaknya terhadap Kesehatan Mental
Salam sejahtera dan salam bahagia Sobat Mina
Tabik Pun!
Perkembangan media sosial telah mengubah cara Gen Z menjalani kehidupan sehari-hari. Informasi mengenai tren terbaru, tempat yang sedang ramai dikunjungi, hingga pencapaian orang lain dapat diketahui hanya dalam hitungan detik. Kemudahan tersebut melahirkan fenomena yang dikenal sebagai Fear of Missing Out atau FOMO, yaitu rasa takut tertinggal dari apa yang sedang dilakukan orang lain. Perasaan ini sering muncul ketika seseorang melihat teman-temannya menikmati liburan, mengikuti acara tertentu, atau memperoleh pencapaian yang tampak lebih baik. Tanpa disadari, media sosial membuat kehidupan orang lain terlihat lebih menarik dibandingkan kehidupan sendiri. Akibatnya, banyak anak muda merasa harus selalu mengikuti tren agar tidak dianggap ketinggalan zaman. Padahal, tidak semua yang terlihat di dunia digital mencerminkan kenyataan yang sebenarnya.

FOMO perlahan memengaruhi cara seseorang mengambil keputusan. Banyak Gen Z membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan hanya karena sedang populer di media sosial. Ada pula yang memaksakan diri menghadiri berbagai kegiatan meskipun kondisi fisik dan keuangan tidak memungkinkan. Keinginan untuk selalu dianggap mengikuti perkembangan zaman sering kali mengalahkan kemampuan dalam membedakan kebutuhan dan keinginan. Kebiasaan tersebut dapat menimbulkan gaya hidup konsumtif yang sulit dikendalikan. Lebih dari itu, seseorang akan merasa gelisah ketika tidak dapat mengikuti apa yang sedang menjadi tren. Kehidupan yang seharusnya dijalani dengan tenang berubah menjadi perlombaan untuk mendapatkan pengakuan dari lingkungan sekitar.
Dampak FOMO tidak hanya terlihat dari perilaku konsumtif, tetapi juga berpengaruh terhadap kesehatan mental. Seseorang menjadi lebih mudah merasa cemas, rendah diri, bahkan kehilangan rasa percaya diri ketika membandingkan kehidupannya dengan orang lain. Perbandingan yang terus-menerus membuat seseorang lupa bahwa setiap individu memiliki perjalanan hidup yang berbeda. Ada yang mencapai keberhasilan lebih cepat, ada pula yang membutuhkan proses yang lebih panjang. Sayangnya, media sosial hanya menampilkan hasil akhir, bukan perjuangan yang telah dilalui. Jika kebiasaan membandingkan diri terus dipelihara, rasa syukur akan semakin berkurang dan kebahagiaan menjadi sulit dirasakan.
Mengatasi FOMO bukan berarti harus meninggalkan media sosial sepenuhnya. Yang lebih penting adalah membangun kesadaran bahwa tidak semua hal harus diikuti. Gen Z perlu belajar mengelola waktu penggunaan media sosial, memilih konten yang memberikan manfaat, serta memahami bahwa kehidupan nyata jauh lebih penting daripada citra yang dibangun di dunia digital. Mengembangkan hobi, mempererat hubungan dengan keluarga, aktif dalam kegiatan sosial, dan meningkatkan kemampuan diri merupakan langkah sederhana untuk mengurangi ketergantungan terhadap validasi dari media sosial. Ketika seseorang lebih fokus pada perkembangan dirinya sendiri, keinginan untuk selalu membandingkan hidup dengan orang lain akan semakin berkurang.
Pada akhirnya, setiap zaman memiliki tantangannya masing-masing. Jika generasi sebelumnya menghadapi keterbatasan informasi, maka Gen Z justru menghadapi banjir informasi yang tidak pernah berhenti. Tantangan terbesar bukanlah mengikuti semua tren yang ada, melainkan memilih mana yang benar-benar memberikan manfaat bagi kehidupan. FOMO akan selalu hadir selama seseorang terus melihat hidupnya melalui pencapaian orang lain. Namun, ketika seseorang mampu menerima proses hidupnya sendiri, menghargai setiap langkah yang telah ditempuh, dan mensyukuri apa yang dimiliki, maka ketenangan akan tumbuh dengan sendirinya. Kebahagiaan bukan berasal dari seberapa banyak tren yang berhasil diikuti, melainkan dari kemampuan untuk menjalani hidup sesuai dengan nilai, tujuan, dan impian yang dimiliki.
Artikel lainnya :















