
Menyongsong Peran Aktif Pemilih Pemula dalam Pemilu Serentak 2024 melalui Program Pemberdayaan Keterampilan Profil Pelajar Pancasila
Salam sejahtera dan salam bahagia sahabat diktara
Tabik pun
Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) tidak hanya menjadi tempat belajar bagi masyarakat, tetapi juga menjadi ladang subur untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan, kewarganegaraan, dan aktifitas politik yang bertanggung jawab. Dalam konteks pemilihan umum serentak tahun 2024, PKBM menjadi garda terdepan dalam mengembangkan peran aktif pemilih pemula melalui Program Pemberdayaan Keterampilan profil pelajar Pancasila. Mina ingin membahas bagaimana PKBM menjadi wadah penting dalam mempersiapkan calon pemilih pemula dan mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila dalam praktik pendidikan.

PKBM sebagai Pusat Pendidikan Inklusif
PKBM dikenal sebagai pusat pendidikan inklusif yang mampu menyentuh berbagai lapisan masyarakat, termasuk pemuda dan pemudi yang sedang menempuh pendidikan nonformal. Kehadiran calon pemilih pemula di PKBM menciptakan kesempatan emas untuk membentuk pemilih yang cerdas, kritis, dan bertanggung jawab.
Peran Aktif Pemilih Pemula pada Pemilu Serentak 2024:
- Pendidikan Politik Berbasis Pancasila: PKBM dapat mengintegrasikan pendidikan politik yang berbasis Pancasila, memperkenalkan konsep demokrasi, hak dan kewajiban warga negara, serta kebijakan-kebijakan yang relevan dengan Pemilu 2024.
- Simulasi Pemilu: Mengadakan simulasi pemilihan umum di lingkungan PKBM untuk memberikan pemahaman praktis tentang proses pemilu, mulai dari pendaftaran hingga penghitungan suara.
- Pelatihan Literasi Digital: Melatih pemilih pemula di PKBM dalam literasi digital, membantu mereka memahami dan mengidentifikasi informasi yang valid dari berbagai platform online.
Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5)
P5 merupakan inisiatif yang memadukan pendidikan politik, literasi digital, dan nilai-nilai Pancasila. PKBM sebagai penyelenggara pendidikan dapat menyusun proyek ini sebagai upaya konkret untuk mempersiapkan pemilih pemula.
- Pelatihan Kepemimpinan: Melibatkan pemilih pemula dalam kegiatan kepemimpinan di lingkungan PKBM, meningkatkan keterampilan kepemimpinan dan tanggung jawab sosial.
- Diskusi Tematik: Mengadakan diskusi tematik yang mendalam mengenai isu-isu kunci dalam Pemilu 2024, dengan memfasilitasi pemahaman yang holistik dan mendalam.
- Kampanye Pendidikan Politik: Mengajak pemilih pemula untuk aktif berpartisipasi dalam kampanye pendidikan politik yang bertujuan menyampaikan informasi yang akurat dan mencerdaskan masyarakat.
Melalui PKBM, pemilih pemula dapat memperoleh pendidikan yang holistik, mencakup literasi politik, literasi digital, dan penguatan nilai-nilai Pancasila. Program Pemberdayaan Keterampilan profil pelajar Pancasila menjadi landasan yang solid untuk mencetak pemilih pemula yang tidak hanya cerdas secara akademis tetapi juga memiliki kesadaran politik dan kewarganegaraan yang tinggi. Dengan demikian, PKBM menjadi motor penggerak untuk menciptakan peran aktif pemilih pemula yang berdampak positif pada Pemilu Serentak 2024 dan masa depan bangsa. [Mina]
Bacaan lainnya :
- Kampus, Perubahan, dan Proses Menjadi Manusia yang Utuh“Menjadi kuat bukan berarti tahu segalanya atau tak pernah hancur. Kekuatan adalah kemampuan untuk bangkit lagi.”
- PKBM Bukan Kampung Dungu. Menepis Stereotip dengan Logika, Bukan Gengsi IjazahStunting, PKBM, dan Nasib: Selamat Datang di Sirkus Bonus Demografi ala Indonesia
- “Pendidikan Tanpa Kesadaran: Mencetak Lulusan atau Membentuk Pemikiran?”“Kesadaran bukan pelengkap dalam pendidikan, melainkan fondasi; tanpanya, ilmu berubah menjadi alat reproduksi ketundukan.”
- Mengapa Pendidikan Karakter Lebih Penting Daripada Nilai Sempurna?“Nilai bisa dicapai, karakter harus dibangun.”
- Ramadhan 1447 H – Ketika Perut Kosong, Pikiran Liar, dan Kita Semua Jadi Filsuf Dadakan“Sahur itu ibarat sidang kabinet: ada yang serius, ada yang pura-pura dengar, dan ada yang tidur. Lalu saat adzan Maghrib, terjadi kudeta lunak—perut mengambil alih kekuasaan. Jangan-jangan, selama ini kita hanya korban dari konspirasi kolak dan takjil? Kalau begitu, saatnya otak kita kudeta juga: isi dengan ilmu digital, agar lapar ini punya arti.”














