Hari Aksara dan Gerakan Akar Rumput. Ronaa, Literasi, dan Masyarakat Pembelajar Sepanjang Hayat
Salam sejatera dan salam bahagia Sobat Mina
Tabik Pun!
Setiap 8 September, dunia memperingati Hari Aksara Internasional. Genap 60 tahun sejak UNESCO memproklamasikannya pada 1966. Indonesia mengusung tema “Literasi untuk Sesama, Semesta, dan Sejahtera” (3S). Meski angka buta aksara nasional tertekan hingga 0,92 persen, angka itu menyembunyikan kesenjangan akses dan fakta bahwa literasi tak berhenti pada kemampuan membaca huruf. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengingatkan, literasi di era digital adalah kemampuan menelaah, mempertanyakan, dan memverifikasi informasi. Di tengah banjir informasi dan kecerdasan buatan, yang dibutuhkan adalah literasi kritis, kemampuan membaca teks sekaligus kehidupan. “Membaca adalah menyalakan lilin dalam kegelapan,” kata bijak. Namun bagaimana jika lilin itu tak pernah sampai ke tangan yang membutuhkan? Di sinilah gerakan akar rumput mengambil peran.
Di Kota Metro, Lampung, Satuan Pendidikan Non Formal Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Ronaa Learning Centre School hadir sebagai ekosistem pendidikan nonformal yang merangkul siapa saja yang putus sekolah, anak-anak, orang dewasa, hingga ibu-ibu yang ingin belajar membaca lagi. Mereka menerapkan pembelajaran hybrid sebagai adaptasi atas realitas geografis Indonesia yang berada di atas cincin api. Ronaa juga melalui gerakan literasi Taman Bacaan Masyarakat dengan program kegiatan tahunan yaitu Kampung Literasi Metro, ruang di mana belajar merambat ke dapur, lapangan, dan mushala. Di tengah euforia AI, mereka mengingatkan: “Kampus tidak kekurangan AI, tetapi kekurangan nalar kritis.” Bukan sekadar sekolah alternatif, Ronaa adalah perlawanan paling elegan terhadap sistem yang membuang mereka terlalu dini.
Kegiatan Ronaa bergerak setiap hari, bukan seremonial tahunan. Mereka mendukung program pemerintah strategis makan bergizi gratis bagi warga belajar, Sabtu sehat olahraga bersama, layanan peminjaman buku, hingga Pesantren Ramadhan. Festival Kampung Literasi Metro 2025 menjadi manifestasi filosofi mereka, mempertemukan puisi dengan gerabah yang abstrak dengan yang konkret, teori dengan praktik sebagai kritik terhadap dikotomi ilmu. Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, mengingatkan: keberhasilan literasi bukan dari kemeriahan peringatan, melainkan dari perubahan hidup masyarakat. “Dari membaca menjadi memahami, dari memahami menjadi peduli, dari peduli menjadi bergerak, dan dari gerakan itulah lahir kesejahteraan.”
Apa yang dilakukan Ronaa sejalan dengan semangat masyarakat pembelajar sepanjang hayat, belajar tidak berhenti ketika ijazah diterima, melainkan proses seumur hidup seperti sungai yang tak pernah berhenti mengalir. Mereka mengajarkan bahwa literasi adalah tentang keberanian bertanya, kemampuan meragukan, dan keterampilan mencari jawaban.
Hari Aksara Internasional 2026 adalah pengingat bahwa literasi adalah fondasi peradaban dan fondasi itu tidak dibangun dari atas, melainkan dari akar rumput. Seperti pepatah Lampung: “Sai bumi ruwa jama”, hidup di dua dunia, yang tampak dan yang tersembunyi. Ronaa mengajarkan untuk tidak hanya melihat, tetapi juga memahami.
Kepada para pegiat literasi di pelosok negeri, kalian adalah garda terdepan. Teruslah bergerak, teruslah menulis masa depan. Karena ketika gerakan akar rumput kuat, seluruh negeri akan berdiri tegak. “Ilmu itu lebih baik daripada harta. Harta harus dijaga, sedangkan ilmu menjagamu.”
Artikel Lainnya :















