Konsistensi, Kompetensi, dan Normalisasi Kemalasan – Ketika Idealisme Menjadi Topeng Malas Berpikir
Salam sejahtera dan salam bahagia sobat Mina
Tabik Pun!
Fanatisme sebagai Alibi, Idealisme sebagai Kedok
Ada satu penyakit intelektual yang jarang diakui. kemalasan yang bersembunyi di balik idealisme. Orang malas belajar, malas berkarya, malas berpikir, tapi ia tidak mau disebut malas. Maka ia mencari tameng agama, seni, ideologi, atau apa pun yang bisa dijadikan alasan agar kemalasannya tampak mulia. Fanatisme terhadap sesuatu entah itu mazhab, genre, atau gagasan seringkali bukan tanda keseriusan, melainkan tanda kaburnya nalar. Orang yang benar-benar menguasai sesuatu tidak perlu berteriak, ia cukup menunjukkan karyanya. Sementara yang gagal biasanya paling lantang bersuara.

Psikolog Angela Duckworth dalam Grit (2016) menunjukkan bahwa kesuksesan jangka panjang tidak ditentukan oleh bakat, melainkan oleh konsistensi minat dan ketekunan usaha. Namun konsistensi ini sering disalahpahami sebagai “setia pada satu jalan tanpa perlu belajar lagi.” Padahal, konsistensi sejati menuntut kompetensi yang terus diperbarui. Randall Collins, dalam The Credential Society (2019), memperingatkan bahwa kredensial tanpa kompetensi hanyalah cangkang kosong. Dan cangkang kosong, sebagus apa pun namanya, tidak akan pernah meneteskan ilmu.
Di sinilah tragedi itu terjadi, normalisasi kemalasan mulai dianggap wajar. Orang berhenti belajar karena merasa “sudah cukup tahu”, berhenti berkarya karena merasa “sudah punya prinsip” dan berhenti berpikir karena merasa “sudah punya kebenaran”. Idealisme yang seharusnya menjadi bahan bakar, justru berubah menjadi rem tangan yang menghentikan laju peradaban pribadi.
Ketika Idealisme Berubah Menjadi Alibi
Mari kita bedah dengan pisau logika. Pertama, ada perbedaan mendasar antara fanatik dan fokus. Fanatik adalah orang yang menolak membaca buku lain karena sudah merasa agamanya/genrenya/ideologinya yang paling benar. Fokus adalah orang yang memilih satu jalan, tetapi tetap belajar dari jalan lain. Fanatik berhenti belajar, fokus tidak pernah berhenti. Yang pertama adalah kemalasan yang berkostum kesetiaan, yang kedua adalah komitmen yang hidup.
Kedua, idealisme tanpa kompetensi adalah omong kosong. Berapa banyak orang yang mengklaim “membela seni”, tetapi tidak pernah menyelesaikan satu karya pun? Berapa banyak yang mengaku “membela agama”, tetapi tidak pernah membaca kitab sucinya secara utuh? Berapa banyak yang merasa “kritis terhadap sistem”, tetapi tidak pernah membaca satu buku teori sosial pun? Ini bukan idealisme, ini adalah penipuan diri sendiri yang dibungkus dengan bahasa moral. Fanatisme menjadi tempat berlindung paling nyaman bagi mereka yang tidak mau repot berpikir.
Ketiga, normalisasi kemalasan adalah ancaman peradaban. Ketika kemalasan dianggap wajar karena “saya kan sudah beriman”, “saya kan sudah punya prinsip”, atau “saya kan sudah senior” di situ masyarakat kehilangan daya hidupnya. Kemajuan tidak lahir dari orang yang merasa sudah tahu segalanya; ia lahir dari orang yang selalu merasa belum cukup tahu. Seperti kata Socrates: “Aku tahu bahwa aku tidak tahu apa-apa.” Ini bukan kelemahan, ini adalah kekuatan paling fundamental dari pikiran yang hidup.
Keempat, konsistensi sejati selalu diiringi kerendahan hati untuk belajar ulang. Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat dan komunitas literasi seperti Ronaa Learning Centre, misalnya, tidak pernah berhenti belajar meski sudah bertahun-tahun melayani masyarakat. Mereka menerapkan hybrid, mengikuti workshop, membangun jejaring, dan terus memperbarui metode. Itulah konsistensi sejati. bergerak tanpa kehilangan arah, tanpa merasa sudah sampai. Sebaliknya, mereka yang berhenti karena merasa sudah “menguasai” atau sudah “benar” mereka bukan sedang beristirahat, mereka sedang mati perlahan.
Konsistensi yang Sehat adalah Konsistensi yang Terus Belajar
Pada akhirnya, polemik antara konsistensi, kompetensi, dan kemalasan ini adalah cermin dari cara kita memandang ilmu. Mereka yang mencintai ilmu akan terus belajar, bahkan ketika sudah merasa “ahli”. Mereka yang hanya mencintai citra sebagai “ahli” akan berhenti belajar, lalu bersembunyi di balik idealisme untuk menutupi kemalasannya. Perbedaan ini bukan soal agama, seni, atau ideologi, ini soal kejujuran intelektual.
Fanatisme yang produktif adalah fanatisme yang disertai kerendahan hati untuk terus belajar. Idealisme yang sehat adalah idealisme yang bersedia diuji, dikritik, dan diperbarui. Sedangkan fanatisme yang malas adalah fatamorgana intelektual. ia tampak seperti kesetiaan, tapi sejatinya adalah pelarian dari tanggung jawab berpikir. Dan mereka yang memilih jalan malas itu bukan hanya merugikan dirinya sendiri; mereka meracuni ekosistem di sekitarnya dengan budaya “yang penting benar”, bukan “yang penting tumbuh”.
Maka pertanyaannya sederhana, apakah kita ingin menjadi orang yang konsisten karena terus belajar, atau konsisten karena berhenti belajar? Yang pertama membangun peradaban, yang kedua hanya membangun monumen ego. Dan monumen ego, sebesar apa pun, tidak akan pernah menghasilkan karya yang layak dikenang. Seperti kata Pramoedya: “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” Maka menulislah, berkaryalah, belajarlah – tanpa henti, tanpa alibi, tanpa topeng.
Artikel lainnya :















