Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) PKBM RONAA Metro Tahun Pelajaran 2025/2026
Salam sejahtera dan salam bahagia. Sobat Mina!
Tabik Pun!
Metro – Ada sebuah ironi manis yang menggelitik di ruang-ruang sempit Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) RONAA Metro. Di tengah gempita politik tubuh dan hiruk-pikuk “surplus ijazah” yang kerap dikeluhkan, sekelompok “warga belajar” justru tengah mempertaruhkan nasibnya bukan pada formalitas gelar, melainkan pada substansi perjuangan.
Tahun Pelajaran 2025/2026 menjadi saksi bisu gelaran Tes Kemampuan Akademik (TKA) bagi tiga garda terdepan pendidikan non formal: Kelompok Belajar Paket C SMA Kelas XII (Tingkat 6), Paket B SMP Kelas IX (Tingkat 5), dan Paket A SD Kelas VI (Tingkat 2).
Jika ada yang kerap menyindir bahwa negara sedang mengalami “defisit value” di tengah samudra ijazah, maka PKBM RONAA adalah kawasan perlawanan terhadap kebodohan struktural itu . Di sinilah, di ruang ujian yang mungkin tak sewahana kampus elite, jiwa-jiwa yang haus akan pengakuan sedang menuliskan tafsirnya sendiri tentang makna merdeka.
REKAP TKA TAHUN 2026 oleh Pustekom RLCSTubuh yang Didisiplinkan, Pikiran yang Merdeka
Dalam sebuah diskursus, banyak pakar mengingatkan kita tentang bahaya “pendisiplinan tubuh” tanpa diimbangi kebebasan berpikir . Namun, mari kita bedah dengan kacamata yang lebih jernih: TKA di PKBM bukanlah sekadar ritual pengikut setia prosedur. Ini adalah lompatan kualitatif bagi mereka yang terlempar dari gerbong pendidikan formal.
Para warga belajar ini bukanlah masyarakat yang duduk manis di bangku sekolah negeri sejak pagi. Mereka adalah para pejuang yang waktu belajarnya harus direbut dari kerasnya kehidupan. Mengikuti TKA bagi mereka adalah momen “episteme” sebuah peristiwa pengetahuan di mana pengalaman hidup bertemu dengan teori.
Seperti pepatah Latin Mens sana in corpore sano, di PKBM RONAA, disiplin mengerjakan soal (rituasi tubuh) adalah jalan menuju kebebasan intelektual. Jika ada yang bilang bahwa “kekuasaan yang mengatur cara kita berdiri adalah awal dari penindasan,” maka di sini kami berani berkata: Tidak. Karena bagi warga belajar kami, mengatur strategi menjawab soal adalah bentuk penguasaan atas nasib sendiri, bukan kepatuhan buta .
Realitas Teknis di PKBM RONAA
Pelaksanaan TKA tahun ini berjalan dengan intensitas tinggi. Mulai dari simulasi teknis untuk Paket A dan B hingga adaptasi mekanisme ujian yang sepenuhnya menjadi kewenangan satuan pendidikan .
Sesuai regulasi, Tes Kemampuan Akademik ini menyesuaikan kisi-kisi pusat. Mereka menjawab implementasi keilmuan dan teori dalam kehidupan sehari-hari. Di sinilah celah humanismenya. TKA tidak menilai mereka berdasarkan seberapa cepat mereka menghafal, tapi seberapa jauh mereka bertahan.
Lebih dari Sekadar Angka
Kepada para warga belajar Paket A, B, dan C PKBM RONAA, ingatlah bahwa pelaksanaan TKA ini bukanlah vonis akhir. Ia hanyalah potret statis dari dinamika pikiran kalian di satu waktu tertentu.
Ada yang pernah mengingatkan bahwa generasi muda harus berani bersuara dan beroposisi terhadap kebodohan . Maka, gunakan ijazah ini bukan sebagai tiket untuk menjadi “budak korporasi” atau sekadar stiker sosial. Gunakan ia sebagai senjata untuk menafsirkan dunia.
Jerih payah yang telah kalian luangkan di sela-sela kesibukan bekerja atau mengurus keluarga adalah bentuk sarkasme paling pedas terhadap sistem yang sering melupakan kaum pinggiran. Semoga hasil TKA nanti menjadi dampak signifikan yang membuka pintu menuju jenjang pendidikan yang lebih tinggi atau pun dunia kerja yang lebih manusiawi.
Selamat beristirahat sejenak setelah pertempuran intelektual ini. Karena perang sesungguhnya, perang melawan kebodohan dan kemiskinan. Masih panjang.
Artikel lainnya :














